Di tengah-tengah mahasiswa PIO semester 2, ada satu mahasiswi yang sudah memiliki pengalaman bekerja, menikah, dan menjadi ibu.
Suatu hari dosen pengajar di kelas itu meminta salah satu mahasiswi untuk bersedia menjadi subjek wawancara BEI seluruh kelas. Tiba-tiba beberapa orang menunjuk mahasiswi itu saja menjadi subjek wawancara. Seluruh pertanyaan wawancara terkait dengan pengalaman kerjanya di pulau Batam selama 1 tahun. Menjawab pertanyaan-pertanyaan wawancara itu membangkitkan kenangan dan memorinya tentang bekerja di Batam. Beberapa pertanyaan membangkitkan pengalaman pahit, dan itu harus dihadapinya.
Di kali lain, mahasiswi ini menjadi pusat bertanya perkara s*x di tengah kawan-kawan perempuan di kelasnya. Dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit. Menjadi sulit karena dia memilih jawaban yang sekiranya tidak mengungkap pengalaman pribadinya.
Beberapa kali juga mahasiswi ini menjadi pusat konsultasi tentang pemberian ASI kepada bayi. Atau kadang-kadang cara mengasuh bayi sembari menjalani kuliah S2. Orang-orang yang bertanya semakin banyak, mahasiswi ini merasa ilmu yang dimilikinya sangat sedikit. Dan dia khawatir ilmunya yang hanya sedikit itu dapat menimbulkan akibat tidak diinginkan di kemudian hari.
Si mahasiswi tersebut tidak tahu harus merasa bangga-bahagia, atau justru tersiksa. Dia merasa terlalu banyak orang yang menganggapnya ahli, namun mahasiswi ini merasa tidak tahu apa-apa.
Mahasiswi tersebut adalah saya. Saya kesulitan melarikan diri dari anggapan 'ahli' ini.
Selasa, 09 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar